![]() |
| doc. kominfo |
Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Walisongo Semarang menyelengarakan diskusi online bertajuk "Pendidikan Berkualitas: Cukup dengan Gizi atau Dimulai dari Guru" Pada Sabtu (07/03).
Pertemuan virtual yang dimulai pukul 14.30 WIB dibuka oleh Akbar Dafa Al Fikri selaku pemandu jalannya acara, diskusi dipimpin oleh Muhammad Amar Akbarudin sebagai moderator dan diskusi diawali dengan pemaparan pengantar dari Fat Maulana untuk membuka arah pembahasan.
Selain pengurus HMJ PAI, forum ini juga dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang tergabung dalam jaringan Republik Besan dan Forsima PAI Jawa Tengah.
Endy Prima Yusena selaku ketua pelaksana mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu hingga terselenggarakannya diskusi online. Ia juga menyampaikan bahwa kolaborasi yang terjalin menjadi bukti bahwa kerja sama dan kebersamaan dapat melahirkan kegiatan yang bermanfaat.
“Saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak, yang telah mendukung terselenggarakannya kegiatan ini khususnya kepada Republik Besan dan Forsima yang telah berkolaborasi bersama, mensukseskan acara ini. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa melalui kerjasama dan kebersamaan kita dapat menghadirkan kegiatan yang bermanfaat serta memberikan ruang bagi mahasiswa untuk diskusi, bertukar pikiran dan menambah wawasan.”
Ketua umum HMJ PAI, Muhammad Aidil Maghfur dalam sambutannya menyampaikan bahwa diskusi online kali ini mengangkat tema yang relevan dan masih hangat diperbincangkan.
“Pada diskusi online siang hari ini kita mengangkat tema yang sangat luar biasa, yang masih hangat diperbincangkan, isu isu yang sangat hangat untuk kita diskusikan dan kita menambah wawasan baru dan ilmu baru nantinya dengan tema ini. Dengan tema Pendidikan Berkualitas: Cukup dengan Gizi atau Dimulai dari Guru."
Muhammad Dzakil Fikri selaku perwakilan Republik Besan berharap diskusi ini tidak sekedar menjadi ruang bicara biasa, tetapi diharapkan mampu melahirkan gagasan yang bermanfaat.
“Diskusi pada siang hari ini bukanlah diskusi yang hanya sebagai omong-omong biasa, tetapi hasil dari diskusi ini nantinya dapat kita buat dan kita rangkai menjadi suatu rekomendasi kebijakan yang mana inshaallah nantinya bisa menginspirasi.”
Dilanjutkan sambutan oleh perwakilan dari Forsima PAI Jawa Tengah, Akmal Rizka Wardana mengucapkan terimakasih kepada HMJ PAI UIN Walisongo atas ajakan kolaborasinya.
“Melihat tantangan-tantangan, apakah pendidikan akan ditunjang dengan gizi yang baik atau cukup dengan perbandingan guru yang lebih baik. Sekali lagi dari forsima sangat berterimakasih atas ajakan kolaborasi dari HMJ PAI UIN Walisongo.”
![]() |
| doc. kominfo |
Sesi berikutnya diisi dengan pemaparan gagasan dari Fat Maulana yang membahas topik Pendidikan Berkualitas: Cukup dengan Gizi atau Dimulai dari Guru. Dalam pemaparannya, Fat Maulana menyampaikan keterkaitan antara aspek gizi dan pendidikan dalam membangun kualitas sumber daya.
“Jika kita berbicara tentang gizi, tentu akan ada 2 aspek yang perlu disebut. Pertama pendekatan kesehatan, pendidikan berkualitas dimulai dari anak yang sehat dan cukup gizi. Apakah ini statment yang dapat kita terima seutuhnya, atau dapat kita setujui? Belum tentu. Karna ada statment kedua yakni pendekatan pendidikan berkualitas dimulai dari guru yang berkompeten dan sistem pembelajaran yang baik. Artinya dua aspek ini bersinggungan secara erat dan tidak bisa dipisahkan , antara gizi dan juga pendidikan. Namun, mana yang lebih diprioritaskan sekarang?.”
Pemantik menjelaskan bahwa stunting dapat dicegah secara efektif pada masa 1000 hari pertama kehidupan atau segera setelah bayi dilahirkan. Ia memperingatkan bahwa kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi pada periode emas tersebut, anak beresiko tinggi mengalami stunting. Oleh karena itu, ia menekankan agar pemerintah memberikan fokus utama pada pemenuhan gizi ini.
Selain persoalan gizi, ia juga menyoroti permasalahan dalam sektor pendidikan, khususnya terkait kualitas dan distribusi guru di Indonesia. Menurutnya meskipun jumlah guru banyak, masalah utama terletak pada rendahnya kualifikasi dan kompetensi. Ia mencatat masih banyak guru yang belum memiliki sertifikasi atau keterampilan spesifik yang dibutuhkan untuk menunjang kualitas pendidikan.
Ia menambahkan bahwa dalam teori pendidikan, guru merupakan faktor yang paling menentukan kualitas pembelajaran. Guru tidak hanya mengajar, tetapi berperan sebagai fasilitator, pembimbing serta pengembangan kemampuan kritis dan literasi siswa. Merujuk pada berbagai penelitian, ia menegaskan bahwa kualitas guru adalah faktor sekolah yang paling berpengaruh terhadap capaian pembelajaran (learning outcomes), sehingga sektor pendidikan dianggap memiliki peran krusian yang bahkan dimulai sebelum persoalan gizi.
Di akhir pemaparannya, ia menyampaikan pesan bahwa pada dasarnya setiap program akan memberikan manfaat jika dijalankan dengan sistem dan tata kelola yang baik serta tidak merugikan pihak mana pun.
Sebagai penutup, ia mengutip sebuah pernyataan dari Malala Yousafzai serta filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara.
“Satu anak, satu guru, satu buku, dan satu pena mampu mengubah dunia, seperti filosofi Ki Hajar Dewantara pula sertiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru, dari ruang belajar yang luas itulah kita membentuk generasi masa depan yang kita bentuk dengan 3A diasah pikirannya untuk mencerdaskan, diasihi hatinya untuk menguatkan dan diasuh kehidupannya untuk menghidupkan.”
Diskusi diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi. Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan lancar dan penuh antusias dari para peserta hingga penutup kegiatan.
Penulis : Tiara Okta Fitriani (Kominfo HMJ PAI UIN Walisongo Semarang)









