15fUkKsZVT9yDgBv50vtln5Ad8Y63wPOAJoCaduz

Kirimkan karya

Kirim

HMJ PAI UIN WALISONGO

Labels

Lima Keutamaan Puasa Syawal Perspektif Ibnu Rajab al-Hanbali

Dok. Iconfinder

Tak terasa bulan Ramadhan telah berlalu. Gema takbir malam hari raya, tepatnya hampir tiga minggu yang lalu juga sudah dikumandangkan oleh umat Islam di seluruh dunia.  Istilah halal bi halal di bulan Syawal sudah tak asing di telinga. Ditambah berbagai kue dan coklat lebaran memenuhi isi meja. 

Tak hanya itu, ada yang lebih istimewa dari hal-hal yang telah disebutkan sebelumnya. Setelah berpuasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadhan, umat Islam banyak yang melanjutkan puasa di bulan Syawal. Puasa itu dikenal sebagai puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal.

Rasulullah SAW. bersabda : 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

"Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun” (H.R. Muslim).

Dalam praktiknya, puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal bisa dimulai dari tanggal 2 Syawal. Boleh dikerjakan secara berurutan maupun acak.  Dengan catatan yang penting masih berada di bulan Syawal.

Melansir dari NU Online, Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya yang berjudul Lathâif al-Ma’ârif fîma li Mawâsim al-‘Am min al-Wadhâif membahas mengenai keutamaan-keutamaan puasa di Bulan Syawal. Beberapa keutamaan-keutamaan tersebut, yaitu:

1. Penyempurna Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan hukumnya wajib, sedangkan puasa 6 hari di bulan Syawal hukumnya sunnah. Sebagaimana ibadah sunnah yang menyempurnakan ibadah wajib. Oleh karena itu, jika melaksanakan puasa Syawal, maka dapat menyempurnakan puasa Ramadhan. 

2. Penyempurna pahala puasa menjadi pahala satu tahun

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada hadis di atas, orang yang berpuasa selama satu bulan lamanya saat Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan puasa 6 hari di bulan Syawal maka akan mendapat pahala berpuasa setahun. 

3. Tanda diterimanya ibadah puasa Ramadhan

Para ulama mengatakan, "siapa saja yang berbuat kebaikan kemudian mengikutkannya dengan perbuatan baik lainnya, maka yang demikian itu adalah tanda diterimanya kebaikan yang pertama."

Konsistensi atau istiqomah dalam beribadah seseorang, menjadi pertanda diterimanya amal ibadah. Begitu pula dengan ibadah puasa. Mendahulukan yang wajib, tapi tak lupa selalu menjalankan sunnahnya.

4. Bukti rasa syukur kita kepada Sang Pencipta

Puasa Syawal menjadi bukti rasa syukur kita kepada Allah atas segala rahmat dan karunia-Nya yang diberikan selama bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh magfirah. Karena banyaknya magfirah selama bulan Ramadhan itulah kita wajib mensyukurinya dengan mentaati apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya dengan puasa Syawal.

5. Tidak terputusnya ibadah selama bulan Ramadhan

Ketika bulan Ramadhan selesai, bukan berarti ibadah yang dilakukan juga ikut selesai. Jadikanlah bulan Ramadhan sebagai tempat untuk mengisi kembali daya iman kita agar bulan-bulan selanjutnya bisa terus konsisten dan tidak terputus suatu amal ibadah.

Dengan demikian, jika bulan Ramadhan umat Islam sangat antusias dalam berpuasa, maka sebaiknya ketika bulan Syawal mereka juga harus antusias. Selagi masih ada kesempatan untuk berpuasa Syawal, marilah kita melaksanakannya. Semoga kita dapat menjadi hamba yang dekat dan dicintai oleh-Nya. 

Penulis : Nurul Laely Mahmudah (Kominfo HMJ PAI 2022)

Related Posts

Related Posts