15fUkKsZVT9yDgBv50vtln5Ad8Y63wPOAJoCaduz

Kirimkan karya

Kirim

HMJ PAI UIN WALISONGO

Labels

Sejarah Pemindahan Kiblat pada Bulan Syakban

Dok. FreepikBulan Syakban merupakan bulan yang istimewa, karena berada diantara dua bulan yang diagungkan oleh Allah Swt., yakni Bulan Rajab dan Ramadan. Didalamnya terdapat salah satu malam yang mulia, yaitu Nisfu Syakban. Nisfu Syakban adalah malam yang jatuh pada tanggal 15 di Bulan Syakban. Di malam inilah terdapat pengampunan dosa bagi kaum mukmin. Jika ada yang memohon ampunan pada malam tersebut maka akan diampuni dosanya oleh Allah Swt. Sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a. sebagai berikut: قالت: فقدت النبى- صلى الله عليه وسلم- فخرجت فإذا هو بالبقيع، رافع رأسه إلى السماء، فقال: أكنت تخافين أن يحيف الله عليك ورسوله. فقلت: يا رسول الله قد ظننت أنك أتيت بعض نسائك، فقال: إن الله تعالى ينزل ليلة النصف من شعبان إلى سماء الدنيا فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم كلب. (رواه أحمد، وقال الترمذى: إن البخارى ضعفه)Artinya: "Aisyah r.a. berkata: Saya kehilangan Rasulullah SAW. tiba-tiba beliau berada di Baqi' sambil mengangkat kepala ke langit". Beliau berkata: "Apakah engkau takut engkau dizalimi oleh Allah dan Rasul-Nya? "Saya menjawab: "Ya Rasulullah saya menyangka engkau mendatangi sebagian istri engkau". Beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi turun pada malam Nisfu Syakban ke langit dunia maka Allah Swt. mengampunkannya lebih banyak dari bulu domba Bani Kalb." (H.R. Imam Ahmad. At-Tirmidzi berkata: "Imam Al-Bukhari mendha'ifkan hadits ini"Terdapat pula salah satu peristiwa yang terjadi di malam Nisfu Syakban, yakni peristiwa pemindahan kiblat yang semula dari Baitul Maqdis atau Masjidil Aqsa di Palestina, dipindahkan menuju Masjidil Haram atau Ka'bah di Mekah. Sebelum berhijrah ke Madinah, Rasulullah SAW. semula berkiblat ke arah Ka'bah di Masjidil Haram. Namun setelah beliau hijrah ke Madinah, kiblat beralih menuju ke arah Baitul Maqdis. Mengutip dari Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab halaman 344, bahwa menurut para pakar tafsir Ath-Thabari tujuan dari pemindahan kiblat yaitu untuk menarik hati Bani Isra’il dengan persamaan kiblat mereka untuk bersedia mengikuti ajaran Islam. Karena kiblat mereka pun mengarah kesana dan Baitul Maqdis dibangun oleh Nabi Sulaiman A.S. leluhur Bani Isra’il yang sangat mereka kagumi. Setahun setengah atau lebih sebulan atau dua bulan lamanya, Rasulullah beserta kaum muslimin mengarah ke Baitul Maqdis, namun orang-orang Yahudi bukannya masuk dan memeluk Islam, mereka justru memusuhi Nabi Muhammad SAW. dan kaum muslimin. Setelah melihat kenyataan tersebut, Rasulullah SAW. yakin, bahwa memilih Baitul Maqdis sebagai arah shalat tidak mencapai tujuannya, bahkan kurang tepat jika dibanding dengan mengarah ke Ka'bah. Baitullah Ka'bah adalah rumah peribadatan pertama yang dibangun manusia, yakni jauh sebelum Baitul Maqdis dibangun. Di sisi lain, Ka'bah adalah arah leluhur Nabi Muhammad Saw, sempat terbesit dalam hati beliau keinginan untuk kembali mengarah ke Ka‘bah. Sebagaimana sebelum beliau berhijrah ke Madinah. Allah mengetahui keinginan tersebut, apalagi sesekali bahkan boleh jadi seringkali beliau mengarahkan pandangan ke langit walau tanpa bermohon. Peristiwa ini pun juga diabadikan dalam Al-Qur'an pada surat Al-Baqarah ayat 142-145. Sebelum dikabulkan oleh Allah Swt, pada ayat 142 telah digambarkan nantinya bagaimana sikap yang akan ditampilkan oleh orang-orang Yahudi dan apa yang mereka akan ucapkan bila pengalihan kiblat ke Ka‘bah terjadi. "Orang-orang yang lemah akalnya di antara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka dari kiblat mereka (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Jawablah: "Milik Allah timur dan barat, Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus. ” Kemudian pada ayat 143, diberikanlah jawaban yang diajarkan Allah kepada Nabi Muhammad Saw dan kaum muslimin, jika pada saatnya nanti ada perintah mengalihkan kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka'bah di Mekah. Jawaban ini sekaligus menyiapkan mental kaum muslimin menghadapi aneka ganguan serta gejolak pikiran menyangkut peralihan kiblat dan dengan demikian, diharapkan jiwa mereka  lebih tenang menghadapi hal-hal tersebut. "Dan demikian Kami telah menjadikan kamu, ummatan wasathan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblat kamu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (dalam dunia nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kamu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” Selanjutnya pada ayat 144, setelah jelas bahwa keinginan Nabi Muhammad Saw telah dikabulkan, maka perintah kali ini tidak lagi hanya ditujukan kepada beliau sendiri sebagaimana bunyi redaksi pada penggalan ayat yang lalu, tetapi ditujukan kepada semua manusia tanpa kecuali. "Sungguh Kami (sering) melihat wajah mu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjid al-Haram itu adalah benar dari Tuhannya, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” Sedangkan dalam ayat 145, mengisyaratkan bahwa kiblat ke Ka‘bah tidak diubah lagi. Sehingga dengan demikian, Ka‘bah adalah kiblat kaum muslimin hingga akhir zaman. “Dan sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang yang diberi Al-Kitab (taurat dan Injil) semua ayat, mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan engkaupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebagian merekapun tidak akan Demikianlah salah satu kisah yang terjadi pada malam Nisfu Syakban, yakni perpindahan kiblat yang menjadikan Rasulullah Saw disebut sebagai Rasul dua kiblat. Semoga dengan peristiwa tersebut dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua sebagai kaum muslim, serta dapat mengambil hikmah dalam memaknai setiap peristiwa yang terjadi.Penulis: Fajar Fahrozi Kurniawan (Kominfo HMJ PAI 2022)Ed
Related Posts

Related Posts